Enter your keyword

Rabu, 29 Juli 2015

Geulayang Tunang, Sambut Visit Kota Lhokseumawe 2015

GEULAYANG Tunang adalah sebuah permainan tradisional masa kejayaan Aceh di masa Kerajaan Iskandar Muda. Sebelum teknologi berkembang, Permainan ini juga bermanfaat untuk mengetahui arah dan kecepatan angin bagi rakyat tempo dulu.

Budaya ini di Aceh terus digalakkan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Lhokseumawe, Ishak Rizal mengatakan dalam rangka Visit Lhokseumawe, pihaknya melestarikan kembali budaya Geulayang Tunang ini.

Kegiatan ini mengundang seluruh peserta dari kabupaten kota di Aceh. “Sudah delapan kabupaten yang akan mengirim pesertanya, masing-masing dua orang per kabupaten kota yang didaftarkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata masing-masing kabupaten kota,” kata Ishak Rizal kepada, Senin (27/7/2015).

Permainan tradisional Aceh ini akan dipusatkan di Taman Wisata Guha Jepang, Kota Lhokseumawe pada 1-2 Agustus 2015. 

“Ini bagian awal dari Visit Lhokseumawe 2015 sebagai Kota Petro Dollar, menumbuhkembangkan kembali adat dan budaya Aceh,” ujar Ishak Rizal.

Sejarahnya, permainan geulayang tunang atau layang kleung ini adalah hiburan musiman. Setelah musim panen padi, permainan tradisional Aceh ini dimainkan oleh masyarakat Aceh dari pagi hingga sore hari.

Ada tiga katagori penilaian yaitu saat tancap, saat terbang tinggi dan saat penambatan.

Saat tancap akan dinilai bagus naiknya. Jika lebih tiga kali tidak naik langsung gugur. Kemudian pada saat terbang tinggi dinilai ketegakkan selama 10 menit, tarik ulur sampai 500 meter benangnya.
Penilaian terakhir, saat penambatan selama 10 menit. “Hindari layang klep pada saat penambatan,” kata Ishak Rizal.

Kegiatan yang akan dibuka oleh Walikota Lhokseumawe, Suadi Yahya ini akan diwarnai dengan menaikkan layang raksasa dengan ukuran 10 meter dengan 10 personil.

Tujuan kegiatan ini kata Ishak Rizal untuk melestarikan kembali nilai-nilai budaya di masyarakat Aceh yang hampir hilang.  “Ini juga awal dari Visit Lhokseumawe 2015,” ujarnya.

Pemko Lhokseumawe sebelumnya juga telah melestarikan kembali tarian saman dan ranup lampuan bagi anak-anak dan para pelajar. “November nanti juga akan ada kegiatan “Alee Tunjang” budaya tradisional Aceh saat turun ke sawah dan ke laut. 

Alee Tunjang ini merupakan gerakan yang melahirkan bunyi dan irama,” demikian Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lhokseumawe, Ishak Rizal. [Par]