Enter your keyword

Selasa, 18 Agustus 2015

Pacuan Kuda, Destinasi Wisata Paling Bergengsi di Aceh, Catat Jadwalnya Disini

BAGI warga lintas tengah Aceh, kegiatan pacuan kuda paling dikagumi. Setiap tahun ada dua kali event bergengsi ini digelar. Selain untuk melestarikan budaya Gayo, juga untuk menarik wisatawan local dan mancanegara datang ke Aceh Tengah, daerah penghasil kopi Gayo Arabica yang terkenal di dunia.

Tokoh masyarakat lintas tengah Aceh, Bardan Sahidi mengatakan kegiatan pacuan kuda ini hanya ada satu-satunya di lintas tengah Aceh.

“Ini kegiatan yang paling bergengsi di lintas tengah Aceh dan semakin berkembang, event ini adalah kegiatan budaya dan destinasi wisata paling bergengsi di Aceh,” tutur Bardan Sahidi. 

Ia berharap kegiatan ini masuk dalam agenda Pemerintah Aceh agar menjadikan kegiatan ini sebagai destinasi wisata alam satu-satunya di Aceh. 

“Hadiah juara tidak menjadi kebanggaan, tapi kuda dan Jokinya sangat bernilai tinggi, menjadi kebanggaan bagi masyarakat Gayo,” kata Bardan Sahidi.

Kegiatan Pacuan Kuda 2015 ini resmi dibuka oleh Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin, Senin (17/8/2015) di Lapangan H. Muhammad Hasan Gayo, Gampong Belang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah pada pukul 14.00 wib. 

Orang nomor satu di Aceh Tengah ini mengatakan, kegiatan pacuan kuda merupakan pesta rakyat Gayo yang sudah mulai dikenal oleh masyarakat dunia. 

“Banyak wisatawan yang datang ke lapangan ini, pacuan kuda di Gayo sudah dikenal secara luas,” tutur Nasaruddin.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Tengah, Amir Hamzah optimis kegiatan pacuan kuda ini menjadi destinasi wisata dan budaya yang paling menarik untuk disambangi wisatawan.
 
Katanya, kegiatan ini digelar dua kali dalam satu tahun. Perlu dicatat jadwalnya yaitu, 17 Februari yang bertepatan Hari Ulang Tahun Kota Takengon dan 17 Agustus pada moment HUT Kemerdekaan RI. 

Amir Hamzah menjelaskan sudah menjadi aturan tradisional warga Gayo, bahwa kegiatan ini harus dimulai pada Hari Senin, alasannya mudah dilaksanakan karena waktunya satu minggu, hari Jum’at libur.

“Jum’at libur, sedangkan penutupan hari Minggu, kalau tanggal 17 itu jatuh pada hari Selasa atau Rabu maka kegiatannya dimajukan pada Hari Senin berikutnya,” ujar Amir Hamzah. 

Kuda-kuda yang dilombakan juga merupakan hasil persilangan kuda dari Australia. “Kita lombakan ada beberapa kelas, tergantung tinggi dan rendah kuda yang akan diikutsertakan,” ujar Ketua Umum Kegiatan Pacuan Kuda ini. 

Catatan sejarah, budaya ini sudah ada sejak 1912 masa penjajahan Belanda. Karena dataran tinggi, banyak masyarakat Gayo menggunakan kuda untuk bertani, berkebun dan sebagai transportasi sehari-hari. 

“Kita lestarikan budaya ini, kita berharap semakin banyak orang datang ke Aceh Tengah untuk melihat destinasi wisata yang paling bergengsi satu-satunya di Aceh. Masyarakat Gayo menabung untuk bisa menonton event olahraga ini setiap tahun,” ujar Amir Hamzah. 

Selain pacuan kuda, Aceh Tengah juga memiliki Danau Laut Tawar dan situs-situs sejarah kerajaan. “Ini juga dikemas sebagai destinasi wisata yang paling menarik untuk dikunjungi,” ungkapnya. 

Pacuan Kuda yang digelar tahun 2015 dalam rangka HUT RI ke-70 ini diikuti 330 ekor kuda dari tiga kabupaten, yaitu Aceh Tengah mengirim 198 ekor, Bener Meriah 89 ekor dan Gayo Lues 43 ekor kuda dengan masing-masing Joki berusia muda dan dewasa. 

Lomba ini akan ditutup oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, Minggu (23/8/2015). Turut mengundang Pangdam Iskandar Muda, Kapolda, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh serta instansi atau lembaga terkait. [acehterkini]